Impossible Thing (Chapter 2)

Chapter 2

Seohyun hanya bisa menutup mulutnya menggunakan tangan kecilnya. Airmata dan keringatnya mulai mengucur secara bersamaan, yeoja kecil itu hanya bisa mengintip dari celah kecil pada pintu kamarnya yang terkunci rapat sekarang ini. Ia dapat menyaksikan ayahnya yang sedang ditodongi pisau oleh dua namja yang tak dikenalinya, bibirnya bergetar hebat, kakinya gemetaran, mereka terlihat membicarakan sesuatu. Seohyun perlahan membaca pikiran mereka, dan berhasil, namun otaknya sama sekali tak mampu mencerna apa yang dipikirkan mereka, airmatanya kini makin deras. Karena kini, pisau itu menancap sempurna pada paha ayahnya, telinganya dapat mendengar secara jelas jeritan kesakitan ayahnya. Hati kecilnya berteriak memanggil nama ibunya, sementara ibunya pergi entah kemana.

Sebelum hal ini terjadi, ibu dan ayahnya sempat bertengkar hebat, Seohyun sama sekali tak tahu apa yang menyebabkan kedua orangtuanya bertengkar, namun ia bisa melihat tangan ibunya dengan mudah menampar wajah ayahnya. Hal itu membuat ibunya pergi dari rumah dan meninggalkan Seohyun dengan ayahnya, tak berselang waktu yang lama, ketika ayahnya sedang menyiapkan makan siang, tiba-tiba saja para namja berpakaian hitam itu datang dengan cara mendobrak pintu belakang. Seohyun kecil yang saat itu berada dikamar hanya bisa mengunci rapat-rapat pintunya, ia melakukannya karena diberi peringatan oleh ayahnya.
Sekarang mereka baru saja menusuk kepala ayahnya dengan pisau yang sama, sepertinya mereka tak pernah punya perikemanusiaan. Iris kelamnya melebar saat melihat tubuh ayahnya ambruk ke lantai, dan namja-namja itu hanya tertawa kemudian pergi dari tempat itu. Merasa aman, kaki kecil Seohyun berlari kearah ayahnya, mata hitam ayahnya sempat terbuka dan melihat kearah Seohyun. Belum sempat berkata-kata, mata itu menutup secara sempurna. Dan disaat itu pula Seohyun sadar, bahwa ayahnya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.

.
.
.

Hanya ada tatapan aneh dari beberapa siswa di koridor sekolah saat Seohyun hendak menuju kelasnya pagi ini.

Mereka memandang kearah Seohyun, lalu kembali menoleh kearah ponsel masing-masing. Seohyun sendiri sudah tahu apa yang berada dalam pikiran mereka semua, semuanya sama, didalam ponsel mereka terpampang jelas fotonya dengan Kyuhyun saat di taman kemarin hari. Isi pikiran mereka mau tak mau membuat Seohyun geram, pasalnya semuanya hanyalah hujatan ataupun makian yang ditujukan kepadanya. Rupanya mereka adalah penggemar Kyuhyun, ingin rasanya gadis itu menjambak rambut mereka satu per satu, namun ia tak mau melakukannya. Karena jika terjadi masalah, ia tak tahu hal apa yang harus dijadikan sebagai alasan, tentu tidak mungkin ia akan berkata membaca pikiran mereka. Para guru pasti akan menganggap alasannya bukanlah hal yang masuk akal, dan otomatis, dirinya lah yang akan dihukum.
Semuanya hanya menatap takut kearah Seohyun saat gadis itu sampai di ambang pintu kelasnya, tanpa memberi ucapan selamat pagi ataupun hal lain, gadis itu hanya melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya yang berada di pojok kelas. Matanya mendapati Kyuhyun sudah terduduk di kursi yang berada tepat disampingnya. Ia tak memperdulikan hal itu, ia hanya duduk dan menatap kearah luar jendela. Semua pasti bertanya-tanya, ada apa sebenarnya yang berada disana hingga Seohyun tak mau melepaskan penglihatannya dari tempat itu. Sebenarnya tak ada satupun yang menarik disitu, namun Seohyun bisa mendapatkan ketenangan dari sana, saat matanya menangkap cahaya matahari yang menembus daun dan batang pohon, saat rerumputan berdesir tertiup angin, Seohyun menyukai semua itu. Dan semuanya membawanya kepada ketenangan luar biasa pada hatinya dan dapat membuatnya melupakan luka menganga pada hatinya yang masih ada hingga sekarang, walau hanya untuk sementara.

“Adakah setan tampan disana, sehingga kau tak mau melepaskan penglihatanmu dari situ?” Kepala Seohyun tertoleh seketika dan mendapatkan seorang namja yang tengah menatapnya intens. Siapa lagi jika bukan namja bermarga Cho yang terkenal dengan sifat arogannya?.

“Tidak” jawab gadis itu dengan dingin. Seisi kelas menatap mereka heran, menurut kabar yang mereka dengar, bahwa Seohyun dan Kyuhyun telah berpacaran—itu karena foto mereka saat di taman—. Akan tetapi, sifat keduanya sama sekali tak melukiskan keromantisan layaknya sepasang kekasih. “Itu hanya gosip tak bermutu”

Tiba-tiba saja Seohyun mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun. Ia menolehkan kepalanya kearah para siswa yang kini tengah menatap mereka, ia sempat membaca pikiran mereka, yang tak lain karena sikapnya yang buruk pada Kyuhyun. Maka ia membantah jika ia dan Kyuhyun adalah sepasang kekasih, itu semua hanyalah kesalahpahaman belaka. Dirinya dan Kyuhyun hanyalah sebatas teman—ataupun tidak sama sekali—.

“Aku dan Kyuhyun tidak berpacaran” Kyuhyun sendiri hanya kebingungan, namun akhirnya ia tahu apa yang dimaksud Seohyun mengingat perkataaan yeoja itu kemarin hari.

‘Aku bisa membaca pikiranmu’

“Dia berbohong” Kyuhyun akhirnya angkat bicara, senyum yang tak dapat diartikan muncul pada wajah tampannya. Sudah diberitahu, namja ini memanglah suka mengundang emosi. “Aku dan Seohyun memang berpacaran. Ia berbohong karena tak ingin kalian mengetahuinya”

Seohyun membulatkan matanya. Ayolah, bahkan ia sama sekali tak menganggap Kyuhyun sebagai temannya. Lalu bagaimana bisa mereka berpacaran? Ini gila. Namja itu benar-benar gemar membesarkan masalah.
Yeoja itu berusaha membaca isi otak Kyuhyun, ia tercengang, Kyuhyun hanya sekedar mencari masalah yang baru, maka ia membenarkan pernyataan bahwa dirinya berpacaran dengan Seohyun.

Gadis itu terlalu malas berdebat dengan Kyuhyun. Ia melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, berharap tak akan pernah melihat wajah milik namja itu. Untuk masalah baru yang akan muncul akibat pernyataan gila Kyuhyun, itu soal nanti. Yang terpenting sekarang adalah menjauh untuk sementara dari namja bernama Cho Kyuhyun itu.

.
.
.

Milan, Italy.

“Terus pantau keadaannya” ucap seorang yeoja kepada namja disampingnya. Ia menyeruput americano yang baru saja dipesankan khusus untuknya, tangan pucat miliknya dengan perlahan menaruh cangkir itu pada meja kecil yang berada disampingnya. Wajah penuh keriput itu terlihat mengkhawatirkan sesuatu.

“Baik, nyonya” ucap namja itu seraya membungkukkan badannya.

“Aku tidak ingin rahasia ini sampai terbongkar. Jika hal itu terjadi, aku tidak akan segan-segan menyakiti keluargamu” yeoja itu menatap tajam kearah pria disampingnya. Yah, hanya karena sebuah masalah, sifatnya sudah berubah menjadi layaknya psikopat. Masalahnya, ia tak bisa membiarkan rencana yang sudah ia susun hingga bertahun-tahun terbongkar begitu saja, rencana ini dapat menentukan segalanya. Termasuk masa depan Korea.

“Nyonya bisa mempercayai saya. Tentang nona Seohyun, saya sudah menyewa seseorang untuk memantau gerak-geriknya”

“Bagus” jawab yeoja itu tersenyum “satu hal, jangan pernah memberitahu Seohyun tentang hal ini. Akan sangat berbahaya jika kita memberitahukan hal ini padanya”

“Baik nyonya”

Yeoja itu tersenyum, mengungkit masa lalu sepertinya tidak ada salahnya. Ia hendak menyusun rencana tentang bagaimana dendam dan amarahnya bisa terbalaskan, ia sudah mendengar kabar bahwa Cho Hyun Rin sudah ditembak mati sekitar pukul empat sore kemarin hari. Dan ia juga sudah memperkirakan, bahwa sasaran selanjutnya adalah dirinya sendiri, mengingat dirinya adalah informan terakhir yang tahu tentang kode brankas alih kepemilikan senjata perang Korea. Presiden sudah memberikan tanggung jawab besar kepada mereka, mereka tak bisa menganggap itu hal yang sepele. Sejauh ini, sudah ada delapan orang yang menjadi korban akibat tanggung jawab besar ini. Beruntung Cho Sang Hyun masih dapat hidup setelah ditembak hingga dua kali, namun namja itu kini terbaring koma sejak setahun yang lalu.

Yeoja bernama Seo Ha Na itu menghela nafasnya berat. Haruskah ia menyerahkan tanggung jawab berbahaya ini pada Seohyun? Begaimana bisa? Identitas Seohyun adalah kode pembuka brankas itu, mereka dapat mengetahui kodenya dengan mudah jika hal itu bisa terjadi. Hal itu bisa menjadi kiamat bagi masyarakat Korea.
Namun yeoja itu mungkin masih bisa menghela nafas lega sekarang ini, karena identitas Seohyun bukanlah satu-satunya kode pembuka brankas keramat itu, jika hanya memasukan identitas Seohyun seorang, brankas itu tak dapat dibuka. Karena mereka juga telah mengimput individu baru pada brankas itu agar tak dengan mudah terbuka begitu saja.

Putra sulung Cho Sang Hyun dan Cho Hyun Rin.

.
.
.

Seohyun hanya bisa menghela nafas berat. Belum sampai dua jam Kyuhyun menyatakan mereka berpacaran—meski hal itu tidak benar adanya—, hal itu sudah menjadi bahan gosip terhangat di kalangan para siswa. Ingin rasanya ia menutup mata agar tak dapat melihat wajah itu, namun hal itu mungkin akan menjadi hal paling mustahil yang harus digapai Seohyun. Mengingat namja itu juga teman sebangkunya, bodoh, kenapa ibunya seenaknya menyekolahkannya di sekolah yang seperti ini? Dan kenapa hal gila ini dapat terjadi? Oh, bahkan ia masih menyandang gelar murid baru di sekolah ini.

Sudahlah, mungkin ini sudah menjadi takdirnya.

Langkah kakinya membawanya menuju kelasnya. Seisi kelas kembali menatap dirinya Kyuhyun secara bergantian, Seohyun hanya menatap tajam kearah para murid, ia sedikit menyingkirkan rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya.

Hanya ada gebrakan meja saat Seohyun menduduki bangkunya. Itu adalah perbuatan Kyuhyun, ia begitu kesal karena seisi kelas menatapnya tanpa berhenti. Belum lagi saat murid-murid yang bukan dari kelasnya mengintip mereka dari luar jendela. Risih? Tentu saja, tapi Seohyun hanya mengabaikan hal itu, mengingat biang keladi masalah ini adalah Kyuhyun sendiri.

“Bisa tidak kalian berhenti menatapku, hah?” Ucap Kyuhyun dengan nada yang mengerikan, rahangnya mengeras, tatapannya tajam. Jujur saja, Seohyun sedikit merinding saat melihat Kyuhyun yang seperti itu. Aura mengerikan kembali terpancar pada diri Kyuhyun. Akibat ketakutan yang melanda mereka, akhirnya para murid yang lain menghentikan kegiatan mereka, yaitu menatap Kyuhyun.

Kyuhyun masih terbawa emosi, tangannya terangkat untuk mengambil tasnya dan pergi dari tempat itu. Ia ingin pulang, itulah yang tertangkap oleh mata Seohyun, namja itu ingin pulang. Ah, tepatnya bolos dari sekolah, sepertinya namja itu tak dapat mengatur emosinya, walaupun dia ingin, tapi dendam dan trauma besar di masa lalunya selalu saja memancingnya untuk selalu meluapkan emosinya dimana saja.

.
.
.

Kyuhyun tersentak. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat kejadian pembunuhan dengan mata kepalanya sendiri. Dan orang yang menjadi korbannya adalah adiknya sendiri, matanya bisa melihat tubuh adik perempuannya yang berlumuran darah terhempas ke lantai keramik yang dingin. Ia hendak berteriak, namun melihat pistol yang sama yang telah membunuh adiknya berada dalam genggaman para namja mengerikan itu membuat Kyuhyun kecil hanya bisa menutup mulut.
Dan sekali lagi, bunyi pistol itu kembali terdengar oleh gendang telinga Kyuhyun. Teriakan ibunya yang memekakan telinga dapat membuat Kyuhyun bergetar tak karuan, padahal mereka sedang bermain petak umpet. Dan Kyuhyun memilih untuk bersembunyi di lemari hias, saat ibunya menemukan adiknya Jung Rin, tiba-tiba saja dua orang namja datang dengan tiba-tiba. Mereka mengancam ibu Kyuhyun dengan pistol, namun adiknya Jung Rin menghalangi mereka. Akan tetapi Kyuhyun kecil tak pernah tahu, bahwa itu adalah hari terakhir telinganya mendengar suara milik adik dan ibunya. Kaki ibunya ditembak hingga tak bisa berjalan, adiknya telah meninggal, setelah itu, tubuh ibunya diseret dan dibawa ke mobil.
Polisi baru tiba satu jam setelah ibunya diculik, tapi apa yang didapatkan? Bahkan pelaku tak meninggalkan sidik jari sedikitpun. Akibatnya, keberadaan pelaku dan ibunya sulit terdeteksi pihak kepolisian.
Belum lagi saat ia mendapat kabar bahwa ayahnya tengah menjalani masa kritis di rumah sakit akibat dua buah peluru yang berada pada tubuh ayahnya. Namja kecil itu menangis tanpa henti, saat suaranya tak mampu lagi membangunkan ayahnya. Adiknya yang ia sayangi telah pergi untuk selamanya, ayahnya terbaring lemas di rumah sakit, ibunya entah berada dimana. Namja kecil yang malang, ditinggalkan keluarganya pada hari itu juga, meski peninggalan harta keluarga Cho sangatlah berlimpah, namun apa gunanya? Ia lebih pantas dibilang namja kecil yang kini hidup sebatang kara.

.
.
.

Kyuhyun menghapus airmata yang sudah membanjiri wajahnya. Ia menatap kosong kearah gundukan tanah dan sebuah batu nisan yang berada dihadapannya.

Cho Jung Rin.

Itulah nama yang tertulis pada batu nisan hitam yang kini mulai kotor akibat debu yang berterbangan menghampirinya. Kyuhyun hanya mengelus lembut nisan tersebut sambil bergumam kecil. Ia benci dirinya sendiri, ia benci orang yang sudah membunuh adiknya, dan ia benci akan takdirnya. Namja itu mengepalkan tangannya, matanya menggambarkan kebencian dan amarah yang luar biasa. Buku-buku pada jarinya mulai memutih, rahangnya kembali mengeras, dan untuk yang pertama kalinya, Kyuhyun berteriak sekeras mungkin ditempat sepi itu.

“Jung Rin~ah. Oppa berjanji akan membalaskan dendam ini pada orang yang sudah membunuhmu!” nafas namja itu kini terengah engah “oppa berjanji, bahwa orang itu akan mati ditangan ini” ucap namja itu sambil memperlihatkan tangannya. Dalam pikirannya, balas dendam adalah cara terbaik yang dapat dilakukan sekarang ini. Ia menciumi batu nisan itu sebelum kemudian melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.

“Heh, aku baru tahu kau itu namja cengeng” tiba-tiba terdengar suara yang bernada meremehkan dari samping namja itu. Kyuhyun sendiri sudah tak merasa asing dengan suara itu, saat ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara, ternyata perkiraannya benar adanya. Pemilik suara merdu itu adalah Seo Joo Hyun.

“Apa yang kau lakukan disini?” Jawab Kyuhyun dengan sinis. Ia benci dihina, apalagi yang menghinanya adalah kaum hawa, alias lawan jenisnya. Hal itu merupakan beban yang bisa menjatuhkannya disaat itu juga.

“Mengunjungi makam ayahku” Seohyun berbicara tak kalah sinisnya. Yeoja itu ingin mengukur seberapa besarnya emosi Kyuhyun dapat meluap. Akankah mampu membuatnya merinding seketika? “Memangnya kau yang membeli tanah disini?”

Kyuhyun tersenyum miring. “Aku sudah tahu, kau pasti ingin memancing emosiku bukan? Aku jadi teringat dengan pertanyaan yang sama yang kau lontarkan beberapa hari yang lalu” namja itu menghela nafasnya, kemudian memasukkan kedua tangannya pada saku jaketnya. “Sudahlah, itu tidak mempan”

“Jadi begitu?” Seohyun tertawa kecil. Ini sudah memasuki penghujung bulan Oktober, akibatnya udara semakin hari menjadi semakin dingin. Uap yang tercipta akibat hembusan nafas Seohyun kini dapat terlihat dengan mata yang telanjang. “Mau mengungkit masa lalu?”

Kyuhyun menghentikan langkahnya seketika. Ia menolehkan tubuhnya menghadap kearah Seohyun yang kini menatapnya menantang, namja itu memutar bola matanya bosan.

“Yang kutahu, bukankah kau juga membenci masa lalu?”

“Yeah, kau benar. Tapi tidak ada salahnya bukan?” Kyuhyun menghembuskan nafasnya berat. Jadi, yeoja ini ingin tahu bagaimana seorang Cho Kyuhyun meluapkan emosinya? Baiklah, yeoja itu benar. Mungkin tidak ada salahnya mereka mengungkit masa lalu, bukan begitu?

“Baiklah, nona Seo. Asal kau tahu, kau orang pertama yang mampu membuatku ingin mengungkit masa laluku, meski aku tak tahu pasti hal ini akan berhasil”

“Maksudmu?”

“Aku tak yakin, aku mampu bercerita tentang masa laluku. Bagiku, itu terlalu berat”

“Berarti kita impas”

“Kali ini aku yang bertanya. Maksudmu?”

Seohyun tersenyum, ini bukanlah senyum miring ataupun senyum meremehkan. Melainkan senyum yang tak pernah Kyuhyun lihat sebelumnya, sungguh itu sangat manis.

“Sebenarnya, aku sudah tahu tentang masa lalumu, aku membaca pikiranmu. Kita impas karena akhirnya kau mampu mengungkit tentang masa lalumu, dan aku yang kini berhasil tersenyum seperti ini, seingatku, terakhir kali aku tersenyum seperti ini adalah sekitar dua belas tahun yang lalu”

“Aku tidak bisa membaca pikiran seperti dirimu. Memangnya apa yang membuatmu seperti ini?” Senyum Seohyun perlahan memudar kala Kyuhyun mengeluarkan pertanyaan itu melalui bibirnya. Langkah gadis itu terhenti, wajahnya tertunduk seketika. “Ah, baiklah aku tidak bermaksud seperti ini, maaf. Lihat, untuk pertama kalinya juga, aku meminta maaf”

Wajah putih milik Seohyun perlahan terangkat. Senyum itu kembali muncul, senyuman musim semi yang muncul saat musim gugur. Entah mengapa kehangatan dan kesegaran terpancar hanya dari sebuah senyum itu sendiri. Sangat manis, juga memabukan, mungkin itulah penyimpulan yang didapatkan sekarang. Ajaibnya, itu hanya disebabkan oleh sebuah senyuman seorang gadis dingin.

“Jangan hiraukan aku. Oh, kau bertanya tentang masa laluku bukan? Aku juga hampir sama sepertimu. Aku menyaksikan sesuatu yang sebenarnya kurang pantas disaksikan olehku yang pada waktu itu masih berumur lima tahun. Aku melihat sendiri bagaimana ayahku disiksa dan kemudian dibunuh”

Seohyun tertawa, segala bimbangnya mendadak hilang saat itu juga. Ia hampir lupa, bahwa tawa akhirnya bisa melonggarkan tali yang terus saja melilitnya. “Aneh, bukan? Bahkan aku bisa berbicara sepanjang tadi”

Kali ini, senyum muncul pada wajah Kyuhyun “dari pertama kali aku bertemu dengamu, menurutku kau memang aneh”

“Yeah, sepertinya kau benar” ucap Seohyun, tanpa terasa keduanya sudah berada di persimpangan jalan. “Aku harus pergi, sepertinya kita berpisah sampai disini. Jangan lupa, tentang percakapan kita hari ini, itu rahasia kita berdua”

“Baiklah nona Seo. Sampai jumpa”

Seohyun tak menghiraukan ucapan Kyuhyun. Bukannya ia tak mendengarnya, telinganya tentu masih berfingsi dengan baik. Hanya saja, ia terlalu malas berbicara, menurutnya, hari ini ia telah menjadi yeoja cerewet. Yeoja itu menggelengkan kepalanya, ia harus kembali pada sikapnya yang semula. Ia tak mau dianggap gila karena sikapnya yang berubah drastis, jadi mungkin ia harus memperkurang pertemuannya dengan namja bernama Kyuhyun itu.

Cho Kyuhyun, kau harus membayar semua ini.

Keduanya tersenyum, sepertinya salah satu hal mustahil yang ada dalam diri mereka telah berhasil dibangkitkan kembali. Ketika Seohyun yang kini bisa tersenyum kembali, dan saat Kyuhyun yang mulai bisa mengucapkan kata maaf. Asal tahu saja, itu merupakan hal yang begitu sulit dilakukan bagi keduanya.

.
.
.

Taman kota Seoul terlihat sangat sepi sore ini. Hanya terdengar beberapa derap langkah kaki dari beberapa orang yang berlalu lalang di situ, dari arah hamparan rumput yang mulai kehilangan warna hijaunya, duduk seorang yeoja dengan wajah yang kebingungan. Yeoja itu duduk dibawah pohon maple yang mulai menjatuhkan daun-daunnya yang terakhir, jemari lentiknya terlihat memegang sehelai kertas kecil, kepala yeoja itu sesering mungkin menoleh kearah kiri dan kanannya. Jika dilihat, umur yeoja itu masih memasuki tahun yang ke empat belas, surai rambutnya tertiup angin, mata cokelatnya menatap fokus kearah kertas yang berada pada genggamannya.
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Ini adalah hari pertamanya di Korea setelah ia tiba dari Selandia baru pagi tadi, perutnya sudah mulai berbunyi tak karuan. Tujuannya adalah menemukan alamat yang tertulis pada kertas yang ada dalam genggamannya. Yeoja itu menghela nafasnya berat, seharusnya ia dibantu oleh seseorang yang mungkin dapat menjadi pemandunya. Tapi ini bukanlah studi wisata ataupun tur khusus, ia hanya dipulangkan kembali ke Korea oleh neneknya setelah enam tahun menetap di Selandia baru. Otomatis, ia sama sekali tak tahu seluk beluk kota Seoul. Gadis itu bernama Kim Yeolra, gadis berumur empat belas tahun, yang menjadi anak yatim piatu sejak sekitar empat tahun yang lalu.
Sekarang ia tak beda jauhnya dengan kapal tanpa nahkoda. Tak tahu jalan, namun punya tujuan.

“Apa aku harus ke kantor polisi? Tapi aku bukan anak hilang” ia menghela nafasnya. Sepertinya pergi ke kantor polisi adalah satu-satunya cara yang dapat ia andalkan. Tapi, ada satu masalah lagi yang muncul.

Dimana kantor polisi berada?













To be Continue…

Maaf yaa, aku pengen ngerencanain kalo actionnya baru akan muncul di chap 3. Untuk part ini hanya akan sedikit mengungkapkan tentang masa lalu SeoKyu. Jadi mohon pengertiannya *bow*

Advertisements

About Sheren Hwang

Just need to reach her dream.. 01Liner, freelancer anime artist, part time writer, fresh singer, and wanna be an architect.
This entry was posted in Seokyu Fanfiction. Bookmark the permalink.

13 Responses to Impossible Thing (Chapter 2)

  1. rosyochy says:

    Siapa Yeolra, makin penasaran aja sama kelanjutannya, next jangan kelamaan ya, gomawo, hwaiting!

    Like

  2. dewiq says:

    siapa lagi ini…apa yeolra jugà bernasib sama dgn seokyu yg merupakan salah satu anak korban dari kekejaman pria2 berbaju hitam yg telah mambantai keluarganya
    next

    Like

  3. nae_lee says:

    ngeri bgt siih,, paha & kepala d tusuk pisau smpe mati gtu 😦
    SeoKyu hidup slma kurang lbih 10th penuh tekanan batin, kasian bgt dh -_-

    muncul cast baru,, takut ada cinta segi3 niih d antara mrk 😮
    neexxtt..

    Like

  4. kim yong ra says:

    mudah mudahan ibunya seohyun bisa diselamatkan dari kejaran orang yang sudah membunuh suaminya dan ortu kyuhyun,aku suka ff ini ending nya tidak bisa diperkirakan

    Nexxtt..

    Like

  5. priska says:

    Siapa yeolra penasaran nexk

    Like

  6. sk says:

    Ouhh ortu seokyu rekan kerja pnyelamat berkas negara gitu.dan para penjahat gitu pngen mngambil tdak tau paswworndnya pdhal nama seokyu hehehe

    Like

  7. gitadn92 says:

    aduuuh, yg terakhir bikin penasaran??!! kim yeolra, nuguyaa???!!
    next next~~

    Like

  8. phy says:

    yeolra siapa??

    Like

  9. Seokyu dah mlai akrab 🙂
    Yeolra siapa?? ah mkin pnsaran ma nih ff 🙂 Kyuppa ska bnget mmbwat fansnya yg dsekolah heboh. Hmm tpi bsa jdi mreka bnerann jdian 🙂

    Like

  10. indriamanda says:

    Yeolra siapa? Aahhh aku ngerti sekarang gimana masalalu mereka. Yahhh makin seru. Next reading!

    Like

  11. Dwi Novita says:

    Yeolra capa itu ?? keren ffnya

    Like

  12. JessicaSNSD :) says:

    Alurnya pelan tapi pasti. Tapi ada tegangnya juga. Dan siapa yeolra?? Lanjut.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s