Impossible Thing (Chapter 7)

Seperti apa yang selalu ada dipikiran hampir setiap orang diseluruh dunia. Kesuksesan sebuah pentas juga banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang berada dibelakang panggung.
Meski tak nampak oleh banyaknya pasang mata yang menonton, keberadaan mereka adalah hal yang benar-benar mutlak diperlukan. Apabila mereka mengabaikan semua itu, kehancuran sebuah pentas selalu ada didepan mata.

Dan itu juga adalah salah satu contoh dari jalannya kisah ini.

Tidak ada satupun masyarakat Korea yang tahu tentang pengorbanan besar yang terjadi dibelakang mereka. Saat pengorbanan ini mengharuskan nyawa sebagai tumbalnya.

Jung Min Hyuk, adalah seorang pria ambisius yang memulai perang besar dibalik panggung ini. Seharusnya dia adalah orang yang harus bertanggung jawab atas hilangnya beberapa nyawa. Dan tak hanya itu, dia juga harus bertanggung jawab atas kebahagiaan yang telah ia renggut dari tiga orang anak yang tidak tahu apa-apa.

Dia memulai perangnya saat dia mulai menginginkan tahta yang jauh lebih tinggi. Ambisinya adalah untuk bisa menjadi pemimpin tunggal Korea. Sekaligus mengajukan perang terhadap negara-negara yang jauh lebih kecil dari Korea. Agar dia bisa menguasainya tentu saja. Dan itu bisa juga berarti Korea mengajukan perang terhadap seluruh negara di dunia. Siapapun tahu bahwa negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang, Rusia, dan negara-negara yang lain tidak akan tinggal diam jika hal ini bisa terjadi.

Dan semua pasti berpikir jika dia hanya ingin menginginkan kehancuran, bukan kebahagiaan.

Namun pria ini tak mungkin bisa dibantah.

Ia tetap bersikeras mencari letak gudang persenjataan terbesar di Korea, agar ia bisa memperkuat armadanya. Dan otomatis, negara tidak akan berdaya menghadapinya.

Akan tetapi rencananya tersebut dapat diketahui oleh mata-mata kepercayaan Korea secara diam-diam—mereka adalah Cho Hyun Rin dan Seo Ha Na. Akhirnya Jung Min Hyuk dijadikan sebagai buronan internasional. Walaupun begitu, keberadaannya tetap saja tak bisa dilacak. Maka untuk berjaga-jaga, negara mempercayakan keamanan gudang tersebut pada enam orang mata-mata kepercayaan—dan dua diantaranya adalah Cho Hyun Rin dan Seo Ha Na.

Namun meski begitu, setelah itu mereka membuat pilihan yang salah tanpa disadari. Karena mereka sudah menjerumuskan anak-anak mereka dalam masalah besar. Mereka sudah sepakat untuk menjadikan kedua anak itu sebagai sandi dari brankas tempat dokumen-dokumen negara itu tersimpan—termasuk letak gudang persenjataan.

Saat pada akhirnya mereka malah mati ditangan Jung Min Hyuk—pengecualian untuk Seo Ha Na dan Cho Sang Hyun, dan setelah itu semua terjadi, tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain berharap sesuatu yang jauh lebih buruk tidak akan terjadi.

Meski begitu, tanpa mereka sadari, Jung Min Hyuk masih tetap terus menjalankan rencananya. Dan masalah dari masa lampau ini justru mulai mengincar anak-anak yang dulu di ikut campurkan oleh mereka.

Cho Kyuhyun dan Seo Joohyun.

.

.
Impossible Thing © Yukarizumi

Chapter 7

‘The Piece Of The Lost Memory’
.

.

Seohyun menatap nanar wajahnya yang kini terpantul oleh cermin. Baru menyadari betapa menyedihkan dirinya saat ini. Lingkaran hitam yang lumayan jelas terpeta dibawah matanya, mata yang sembab, juga bibir dan wajah yang pucat.

Ia tersenyum meremehkan, meremehkan dirinya yang ternyata tak sekuat yang terlihat oleh mata. Jika ia bisa berpendapat, mungkin Seohyun akan mengibaratkan dirinya seumpama seekor anjing bodoh yang tidak ada gunanya.

Ya, seekor anjing bodoh.

Seohyun terus membayangkan hal itu. Menyadari betapa bodohnya ia saat terus mengharapkan cinta dari Changmin selama ini. Padahal sudah begitu jelas bagi Seohyun bahwa Changmin sama sekali tak pernah mencintainya. Tapi, itulah kebodohan. Dan Seohyun tak bisa membantah bahwa ia sama sekali tak memiliki hal itu.

Yeoja itu melangkahkan kakinya menuju kelasnya sambil tertunduk. Hampir saja tidak sanggup menopang berat tubuhnya, juga berulang kali menyenggol orang yang berada didekatnya tanpa sengaja. Dari depan kelas, gadis itu bisa melihat Kyuhyun sekaligus membaca kekhawatiran namja itu terhadapnya.

“Kau tidak perlu mengasihani aku. Aku bukan anak kecil” ujar Seohyun sambil melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya. Saat ia duduk, pandangannya teralihkan keluar jendela, tepatnya pada butiran-butiran salju yang mulai jatuh menyentuh tanah. Seohyun tersenyum hambar. Cahaya matahari yang tenang dan hangat, angin yang selalu meniup daun hijau yang jatuh berguguran, juga bunyi gesekan daun dan ranting yang menenangkan telinga. Kini sudah tidak ada, semuanya pergi seiring musim berganti. Seohyun terus memikirkan hal itu. Memang Kyuhyun pernah melarangnya untuk berandai, tapi untuk kali ini saja, andai saja perasaannya juga hilang seiring waktu yang berlalu. Rasanya tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan di dunia ini, dan untuk yang pertama kalinya ia akan melakukan apapun demi hilangnya perasaan itu. “Untuk saat ini aku hanya membutuhkan sesuatu yang bisa membantuku. Apapun itu”

Kyuhyun mengernyit heran “Yang bisa membantumu? Apa maksudmu?”

“Ah, tidak” Seohyun menggeleng pelan. “Dan kurasa, lebih baik kita hentikan saja apa yang sudah kita rencanakan belakangan ini”

Kyuhyun membulatkan matanya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Seohyun. Tak perlu menanti penjelasan yang lebih lagi dari yeoja itu, ia sudah tahu dengan apa yang dimaksudkan Seohyun.

Sederhana saja, Seohyun ingin penyelidikan yang mereka lakukan untuk mencari tahu siapa pembunuh keluarga mereka sebaiknya dihentikan.

Kyuhyun menggebrak mejanya. Sementara Seohyun sama sekali tak terkejut dengan bunyi yang dihasilkan oleh pukulan Kyuhyun pada meja itu. Ia sudah benar-benar siap, sangat siap dengan apa yang harus ia terima. Ini adalah keputusannya, keinginannya, berarti konsekuensi yang akan muncul harus ia tanggung pula.

Mengapa aku harus melakukan ini?

Memangnya Seohyun menginginkan hal ini terjadi? Tentu saja tidak, dan ia masih menyimpan dendam yang besar terhadap orang yang telah membunuh ayahnya. Tentang keputusan mendadaknya ini, ia sudah memikirkan hal tersebut dengan cukup matang pula.

Jika kau berpikir ini semua karena Changmin..

Kau salah besar..

“Apa maksudmu hah?! Apa sebegitu bodohnya dirimu sampai ingin menghentikan usaha kita selama ini? Apa yang selama ini berada dipikiranmu? Jadi selama ini kau hanya ingin mempermainkanku? Begitu?”

“Kumohon, dengarkan aku..” Sahut Seohyun dengan nada lemah.

“Untuk apalagi aku mendengarkanmu? Mendengarkan penjelasan?” Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya “Asal kau tahu, penjelasanmu itu tak pernah aku butuhkan. Yang aku tahu, jika saja kau menjelaskan mengapa kau menghentikan seluruh rencana kita, alasannya pasti benar-benar konyol. Dan aku benci kekonyolan. Jadi, jika kau mencoba berusaha menjelaskan semuanya padaku, sebaiknya hentikan usahamu itu! Memangnya kau—”

“Cukup!!” Seohyun berteriak sekuat dan semampu yang ia bisa. Kedua tangannya gemetaran sambil menutup telinganya. Gadis itu menggelengkan kepalanya lemah, pertanda bahwa ia tak ingin mendengar kata-kata yang lebih lagi dari mulu Kyuhyun. “Hentikan, kau tidak mengerti..”

“Apa yang tidak aku mengerti?” Gumam Kyuhyun, namun masih bisa didengar oleh Seohyun “Apa aku melewatkan sesuatu?”

“I-ibuku…” Seohyun tertunduk “Semalam dia meneleponku. Dan… Dan dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak aku inginkan sekarang..”

“Apa itu?”

“Katanya aku harus pergi dari Seoul, dari Korea…” Seohyun mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis yang berusaha membasahi pipinya—walau ia tak mengerti mengapa ia menangis. “A-aku juga tidak menginginkannya! Aku sudah berusaha untuk mencegahnya datang dan menjemputku, tapi… Tapi…”

“Cukup..” Sahut Kyuhyun datar “Kau bukan lagi Seohyun yang aku kenal”

“Maksudmu apa?” Seohyun mendongak, menatap wajah datar Kyuhyun. Berusaha mencari tahu jalan pikiran Kyuhyun. Tapi kosong, seluruhnya adalah kekecewaan. Tidak ada yang lain.

“Sebaiknya kau saja yang mencari tahu..” Kyuhyun berbalik, mulai melangkahkan kakinya pergi. Dan Seohyun hanya bisa menatap punggung namja itu yang semakin menjauh dan akhirnya hilang dibalik pintu kelas.

.
.
.


“Yoboseyo..”

“Hyunnie, bagaimana kabarmu?” Ujar seorang wanita paruh baya dalam telepon Seohyun.

“Aku baik” Sahut Seohyun datar “Tumben ibu menanyakan kabarku”

Hanya suara tawa yang didengar oleh telinga Seohyun setelah itu. Gadis itu mengerutkan keningnya, merasa tidak ada hal yang lucu sama sekali dibalik ucapannya barusan.

“Mengapa tertawa?” ucap Seohyun kembali.

“Ah, tidak. Tidak apa” Sahut seorang wanita yang dipanggil ‘ibu’ itu oleh Seohyun. Ia tetap terdengar bersikap ringan. Seolah sudah terbiasa dengan sikap Seohyun “Hanya saja ibu sudah lama tidak mendengar suaramu”

“Jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan, sebaiknya kuputus saja sambungan teleponnya”

“Oh, tentu saja ada” dengan cepat wanita itu membalas perkataan Seohyun. “Ibu akan datang bulan depan”

“Untuk apa ibu datang kemari?” Ujar Seohyun, mulai tertarik dengan percakapan ini.

“Bukannya Changmin akan menikah?” Ah, meski sudah mengetahuinya. Entah mengapa hati Seohyun tetap saja terasa panas saat mendengar kata ‘Changmin akan menikah’.

“Ya, tapi apa itu sangat penting sehingga ibu harus datang?”

“Mungkin. Lagipula ibu akan menjemputmu pulang”

“Pulang?” Seohyun mengerutkan alisnya pertanda tidak mengerti.

“Iya, ibu sudah putuskan. Kau akan tinggal disini bersama ibu. Di California”

Gadis itu membulatkan matanya.

“Apa?! Bagaimana bisa ibu melakukan ini? Aku tidak mau kesana”

“Kau tidak tahu, ibu akan jelaskan semuanya setelah ibu sampai disana”

“Tidak! Tidak bisa. Aku tidak akan kesana sekalipun ibu memaksa!”

“Seo Joo Hyun!” Ujar wanita itu, ritme suaranya terdengar seperti sedang emosi “Jangan pernah mencoba membantahku! Apapun alasannya, kau harus tetap tinggal disini bersamaku. Dan aku tidak mau menerima bantahan. Mengerti?”

Seketika itu pula, sambungan telepon itu terputus secara sepihak. Dan Seohyun tak bisa lagi menyampaikan pendapatnya.

Hari itu, hari dimana Seohyun benar-benar merasa hancur, dan itu semua karena apa yang sudah menimpanya. Saat ia tahu bahwa Changmin akan segera menikah—dan itu bukan dengan Seohyun. Kemudian ibunya menelefon bahwa Seohyun akan segera pergi dari Seoul, dari Korea.

Dan itu berarti ia harus meninggalkan tanah kelahirannya, makam ayahnya, semua rencananya, dan.. Kyuhyun. Orang pertama yang mengubah hari-harinya menjadi ‘sedikit’ lebih berwarna.

Ayah, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Ibu tidak pernah mengerti perasaanku..

.
.
.

Gadis itu diam, menatap kosong kearah makam yang hampir sepenuhnya tertutup salju. Pakaian tebal yang ia gunakan rasanya tak cukup untuk bisa menghangatkan tubuhnya, saking dinginnya, bahkan orang lain lebih memilih berada di dalam rumah. Duduk didepan perapian sembari menikmati sup dan coklat panas. Akan tetapi tidak dengan Seohyun, berkunjung di makam ayahnya mungkin adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini.

Andai saja ia bisa bersama dengan Kyuhyun, bekerjasama menyusun rencana—seperti yang biasa mereka lakukan. Mungkin ia sudah lama menghampiri namja itu. Namun, adalah mustahil menemui namja itu sekarang. Karena Seohyun telah mengecewakan namja itu akibat keputusan sepihak yang telah ia buat.

Seohyun menggigit bibir bawahnya, matanya benar-benar perih saat ini. Sekaligus merasakan sesuatu yang seolah menikam-nikam perutnya berulang kali.

Dan disaat itu dia sadar, bahwa dia benar-benar kesepian.

Ingatannya kembali saat malam natal. Saat itu umurnya masih lima tahun. Samar-samar ia ingat waktu ayahnya memberikan boneka keroro raksasa sebagai hadiah natalnya, juga ibunya yang memberikannya sebuah kalung liontin. Malam itu, Seohyun tak pernah merasakan kebahagiaan yang setara dengan kebahagiaan yang ia rasakan malam itu. Dan malam itu benar-benar sebuah keajaiban bagi dirinya.

Ia juga ingat saat mereka duduk bersama menikmati sup dan coklat panas di perapian, dan saat dia dan seorang anak laki-laki saling bertukar hadiah dibawah pohon natal… Ah, malam itu benar-benar nyaman dan hangat.

Tunggu dulu, anak laki-laki?
Siapa anak laki-laki itu? Bukankah itu…

Kyuhyun?

Seohyun membulatkan matanya, sekaligus menutup mulutnya menggunakan tangannya. Merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia ingat. Setelah ia berhasil mengingat ingatannya tersebut, perlahan ingatan lainnya yang pernah menghilang dari pikirannya muncul secara perlahan dan memenuhi pikirannya.

Dulu mereka adalah sahabat yang sangat dekat. Hubungan keduanya terjadi akibat kedekatan orangtua mereka.

Pada saat itu mereka masih berumur lima tahun. Hari itu orangtua mereka mengajak Kyuhyun dan Seohyun untuk pergi bersenang-senang di taman bermain. Keduanya begitu antusias untuk pergi bermain.

Namun sebuah kejadian tak terduga terjadi hari itu, saat mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu. Akan tetapi, Kyuhyun dan Seohyun mengalami luka parah dikepala akibat benturan keras yang mereka alami.

Anehnya, setelah pengobatan dilakukan, keduanya sama-sama kehilangan seluruh ingatannya. Dan kedua orangtua mereka malah membiarkan mereka tak saling mengenal—karena itu justru adalah peluang yang baik bagi mereka. Jika mereka ingat bahwa mereka adalah teman dekat sebelumnya, maka rencana membawa Seohyun ke Italia akan berantakan. Maka, mereka harus memanfaatkan peluang tersebut dengan baik.

Namun mereka sempat mengabaikan perkataan dokter yang dulu menangani Seohyun dan Kyuhyun.

Bahwa sewaktu-waktu—tidak ada yang tahu kapan— ingatan mereka bisa kembali. Mungkin inilah penyebab mengapa mereka bisa dengan mudah dekat satu-sama lain.











To Be Continue…

Advertisements

About Sheren Hwang

Just need to reach her dream.. 01Liner, freelancer anime artist, part time writer, fresh singer, and wanna be an architect.
This entry was posted in Seokyu Fanfiction and tagged , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Impossible Thing (Chapter 7)

  1. sk says:

    annyeong author hehe udah pama ngepost ffnya..masih ingat ama jalan cerita ini…oh seokyu wktu kecil udah saling kenal cuma gara2 kcelakaan itu jdi mereka hilang ingatan..bgaimana dgan kyu apa dia juga ingat.. eommanya sngaja mau misahin mreka pnjahat itu ga tau paswordnya nma sknya yakann..tpi seo apakah bakal prgi smoga sk nya cpat bakal tau sebenarnya

    Like

  2. dewiq says:

    sempet lupa sama ceritanya tapi pas tengah2 untung inget…..
    seohyun setelah inget akan masa lalunya apa akan kabur dan menemui kyuhyun?
    next thor

    Like

  3. priska says:

    wah apa kyu juga ingat kalau seo teman kecilnya

    Like

  4. Next jgn lama” ya ….! 😉

    Like

  5. phy says:

    next ya…
    ternyata seokyu itu sahabat semasa kecil…

    Like

  6. sory ya thor aq coment dipart ni, alnya dipart sebelumnya aq lompat, trus dah lama ga buka blog ni,,,,
    sedih ya,jangan sampe seokyu tertangkap,seo dah ingat kembali,tp apakh kyu sudah ingat tentang seo dimasa lalu? smoga kyu dapat menjadi sandaran seo,tp seo mo pergi bagaimana dgn kyu? kyu kecewa ma seo karna seo ingin prgi kan? bukan karna penyelidikan mereka batalkan? aduh next aja,tpi jangan lama ya,keburu lupa ama jaln critanya,

    Like

  7. seo_yeppo says:

    Bru baca lageee…….mkin kreeeeen chinguuu….hwaiting ut slnjutxaaa

    Like

  8. lolayu says:

    Chinguuuuu lama banget post ff ini..hehehe
    Ceritanya makin bagus n bikin penasaran lho..
    Akhirnya sedikit2 kenyataannya kebuka..tapi sayangx part ini lumayan pendek kalo dibandingin sama part sebelumnya..
    Ditunggu banget next partnya..semoga g terlalu lama dipostnya 🙂

    Like

  9. Lis says:

    Udah lama bnget kok gak dilanjut lanjt to ff nya, padahal seru loh. Makin menarik, tambh bkin penasaran sama lanjutanya. Next. . FIGHTING

    Like

  10. hana syarifa says:

    Ff nya sangat bagus, mungkin ff ini bisa dititipkan ke blog atau wordperss yg sudah memiliki banyak reader jadi ff ini bisa semakin banyak peminatnya
    next jngan lama2 ya ^^ FiGhthinG Author …

    Like

  11. Mirza Ayu P says:

    kpn dilanjutin ..
    klo gk di lanjut disini mending di lanjut di wathpatt. 😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s